BOYOLALI || Portaljatengnews.com – Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Telawa melaksanakan kegiatan pemantauan dan evaluasi tanaman di wilayah Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kedungcumpleng, Sabtu (26/9/2026). Kegiatan ini bertujuan memastikan pelaksanaan pemeliharaan tanaman tahun kedua (2025) berjalan sesuai rencana.
Pemeriksaan difokuskan pada petak 204 C seluas 13,6 hektar, berupa tanaman Jati Plus Perhutani (JPP) di wilayah Resort Pemangkuan Hutan Ngaren. Rombongan dipimpin langsung oleh Administratur KPH Telawa Titus Aryanto, didampingi Kepala Seksi Produksi dan Ekowisata Darmanta, Kepala BKPH Kedungcumpleng Giyatno, serta Kepala Resort Pemangkuan Hutan Ngaren Agus Tri Wahono.
Kegiatan ini menjadi langkah pengawasan sekaligus pemantauan perkembangan tanaman sebelum dievaluasi di tingkat Divisi Regional.
Administratur KPH Telawa, Titus Aryanto, menjelaskan bahwa monev tanaman berfungsi untuk memantau pertumbuhan tanaman muda, menilai tingkat keberhasilan penanaman, serta mengidentifikasi kendala yang ada di lapangan. Hasilnya akan menjadi dasar penentuan langkah pemeliharaan dan kebutuhan penyulaman agar pertumbuhan tanaman optimal.
“Jajaran manajemen melakukan pemeriksaan secara rutin terhadap kondisi dan tingkat pertumbuhan tanaman, serta keberadaannya, sebagai langkah dini sebelum penyulaman. Pemeriksaan dilakukan menyeluruh agar kondisi tanaman diketahui secara nyata dan langkah perbaikan dapat segera ditentukan,” ujar Titus.
Sementara itu, Kepala BKPH Kedungcumpleng Giyatno menekankan pentingnya meminimalisir kematian bibit melalui perbaikan yang dilakukan sejak dini. Ia juga mengajak sinergi antara petugas lapangan, masyarakat, dan pesanggem agar tanaman hutan terjaga dari berbagai gangguan, termasuk dampak kegiatan palawija.
Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan Rekso Wono, Supardi, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, pemantauan langsung di lokasi memotivasi para pesanggem, sementara arahan teknis dari Perhutani mendorong pengelolaan tanaman yang lebih baik.
“Melalui pemantauan rutin dan dialog bersama, kendala di lapangan dapat diantisipasi sejak awal. Perhutani dan pesanggem bahu-membahu mewujudkan keberhasilan tanaman sekaligus menjaga kelestarian hutan,” tutur Supardi.
Laporan: Wahyu






