TEGAL || Portaljatengnews.com – Proyek Rehabilitasi Daerah Irigasi (DI) Kumisik senilai Rp 64,22 miliar yang berada di bawah Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana memicu krisis air bagi para petani di Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal. Penutupan dan pengurugan saluran irigasi tersier demi jalan akses logistik proyek membuat aliran air ke puluhan hektar sawah terputus total.
Amrin, seorang petugas pengairan desa (Ulu-ulu) Banjaranyar, mengungkapkan bahwa pengurugan tersebut menutup buangan dan saluran pengambilan air irigasi yang membentang dari wilayah Batuagung hingga Kaliwungu.
”Irigasi tersier itu tertutup karena bekas galian dan pengurugan jalan. Padahal ini tersier pertanian, bukan sekadar saluran biasa. Pintu air nomor 7 sampai 12 semuanya tertutup buangan material proyek. Jika tersier tertutup, petani mau makan apa?” tegas Amrin saat ditemui di lokasi. Sabtu (10/10/2026).
85 Hektar Sawah Terdampak, Lahan Tanam Mati Mengering.

Menurut Amrin, satu pintu irigasi yang tertutup dampak proyek tersebut mengairi sedikitnya 85 hektar lahan sawah di wilayahnya. Penutupan pintu air secara otomatis membuat puluhan hektar lahan pertanian tersebut sama sekali tidak mendapatkan pasokan air.
”Satu pintu di tempat saya mengairi 85 hektar. Begitu ditutup, otomatis 85 hektar itu tidak bisa dapat air sama sekali. Padahal ini sudah memasuki masa pengolahan tanah pertanian. Mau ambil air dari mana lagi?” tambahnya.
Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya kejelasan komitmen tertulis dari pihak pelaksana proyek. Meski pihak pelaksana sempat menyatakan secara lisan akan bertanggung jawab dan menguras kembali buangan tanah setelah drainase rampung, warga dan petugas ulu-ulu merasa ragu karena tidak ada kesepakatan hitam di atas putih.
Kades Batu Agung: Petani Gagal Panen di Tengah Harga Gabah Bagus
Dampak buruk proyek ini juga dibenarkan oleh Kepala Desa Batu Agung, Kecamatan Balapulang. Ia menyebutkan bahwa ancaman kekeringan ini melenyapkan pendapatan petani yang seharusnya memanen padi pada bulan Oktober.
”Seharusnya bulan Oktober ini petani panen saat harga gabah sedang bagus-bagusnya, tapi terpaksa tidak bisa panen. Biasanya walaupun musim kemarau, petani masih bisa panen karena ada air irigasi yang mengalir. Karena sekarang ada perbaikan, petani tidak bisa tanam, bahkan ada yang padinya mati karena tidak bisa mengairi,” jelas Kades Batu Agung melalui pesan singkat.
Janji Transparansi BBWS Pemali Juana Dipertanyakan
Proyek rehabilitasi jaringan irigasi ini dikerjakan oleh penyedia jasa PT Indo Raya Kabenteng berdasarkan proses E-Purchasing TA 2026 di bawah Satuan Kerja SNVT PJPA Pemali Juana dengan target penyelesaian hingga November 2026.
Sebelumnya, dalam penandatanganan paket pekerjaan di Kantor BBWS Pemali Juana Semarang, ditekankan pentingnya pemahaman ruang lingkup, transparansi di lapangan, serta asas tepat manfaat bagi masyarakat. Namun, kondisi riil di lapangan menunjukkan lemahnya koordinasi dan mitigasi dampak terhadap sektor pertanian warga lokal.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana belum dapat dikonfirmasi lebih lanjut terkait tertutupnya saluran irigasi yang merugikan para petani di Balapulang. Para petani bersama Ulu-ulu dan pemerintah desa mendesak pihak kontraktor dan instansi terkait untuk segera membuka kembali pintu irigasi yang tertutup material proyek serta merumuskan ganti rugi atas ancaman gagal panen ini.
Laporan: Bambang Amin






