Fenomena “Ora Nduwe Isin” dan Senyum Pepesan Kosong Kemunafikan

- Redaksi

Minggu, 25 Oktober 2026 - 09:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


Oleh: Moh. Aslim Akmal – Pegiat Sejarah dan Budaya Kudus Kulon – tinggal di Kudus. 25 Oktober 2026

 

Frasa “ora nduwe isin” (tidak punya rasa malu) kini sudah jarang terdengar di tengah perbincangan masyarakat, baik dari kalangan anak-anak hingga dewasa. Padahal dulu semasa kecil, frasa ini sering kali diucapkan setiap ada sikap yang dianggap tabu. Ketika kita hendak mencuri pentil (buah mangga muda), rambutan, atau tebu di sawah tetangga, orang tua akan langsung menegur, “Ojo, mundak diarani ora nduwe isin” (Jangan, nanti disebut tidak punya rasa malu). Dalam budaya masyarakat, khususnya Jawa, frasa ini bukan sekadar ejekan biasa. Ia adalah tingkatan kritik sosial tertinggi yang menandakan bahwa seseorang telah kehilangan kehormatan, harga diri, dan kompas moralnya.

Namun, zaman telah berubah. Setiap kali membuka ponsel dan membaca berita terbaru di berbagai platform media, isinya kebanyakan tentang kebobrokan moral yang terjadi di tengah masyarakat hingga institusi pemerintahan. Penilaian ini bukan datang dari saya pribadi, melainkan dari para ahli dan komentar masyarakat yang peduli tentang rusaknya keadaan.

Di era digital saat ini, krisis moral di masyarakat semakin nyata karena hilangnya rasa malu dan etika. Kasus korupsi, perselingkuhan, hingga pergaulan bebas kini marak terjadi dari lingkungan sekitar hingga tingkat nasional. Hal-hal buruk yang dulunya dianggap sebagai aib memalukan, sekarang justru dipamerkan secara terbuka di media sosial tanpa ada lagi rasa bersalah.

Baca Juga :  Ribuan Warga Kudus Meriahkan Kirab Taksis Menara Kudus ke-491

Kondisi ini diperparah oleh teknologi ponsel dan algoritma media sosial yang hanya mengejar perhatian publik. Batas privasi menjadi hilang demi mengejar popularitas, jumlah penonton, dan materi. Alih-alih dihukum secara sosial, para pelaku pelanggaran etika ini justru sering kali diberi panggung dan menjadi viral. Dampaknya, masyarakat menjadi terbiasa dan maklum dengan perilaku menyimpang tersebut. Pamer aurat, pamer kemesraan, berjoget tidak keruan di atas panggung, aksi saweran, dan hal-hal memalukan lainnya justru sengaja dibuat sebagai konten demi mengejar status viral.

Fenomena ini mengingatkan saya pada petuah guru panutan saya. Meskipun beliau sering disebut sebagai “Kiai Ndeso”, saya sangat mengaguminya karena beliau mampu membaca keadaan dengan sangat jernih. Beliau sempat berujar, “Wis, blass jian do ora nduwe isin babar pisan. Piye ya, imane wis do tipis, opo ancen wis ora ono. Lha wis ra jajal takoni wong sing pinter-pinter.” (Sudah sama sekali tidak punya rasa malu. Bagaimana ya, imannya sudah menipis atau memang sudah tidak ada. Coba ditanyakan ke orang-orang ahli).

Kegelisahan sang kiai sebenarnya telah diperingatkan oleh Nabi Muhammad SAW ribuan tahun lalu. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya di antara ungkapan yang dikenal manusia dari perkataan nubuat terdahulu adalah: Jika kamu tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” Hadits ini bukan sebuah izin untuk bebas bermaksiat, melainkan sebuah sindiran sekaligus ancaman keras. Artinya, jika rasa malu seseorang sudah hilang, maka tidak ada lagi pembatas antara dirinya dan kehinaan. Ia akan melegalkan segala cara tanpa peduli dosa ataupun etika.

Baca Juga :  Pemprov Jateng Salurkan 61 Kursi Roda Adaptif dan 27 Kaki Palsu untuk Penyandang Disabilitas

Peringatan tersebut selaras dengan teori psikologi moral. Rasa malu seharusnya berfungsi sebagai kontrol otomatis atau “rem moral” agar seseorang tidak berbuat jahat. Ketika rem moral ini rusak, aturan hukum formal maupun norma agama sekeras apa pun tidak akan lagi ditakuti karena manusia telah kehilangan kesadaran diri untuk mematuhinya.

Ironisnya, kerusakan moral ini sering kali dibungkus rapat-rapat oleh senyum pepesan kosong kemunafikan. Di ruang publik, banyak orang sibuk menampilkan citra suci, santun, dan taat aturan. Namun, keadaan yang terjadi di balik layar justru sebaliknya; perilaku aslinya sangat busuk. Jika kemunafikan dan hilangnya rasa malu ini terus dibiarkan mengakar, bangsa kita akan menghadapi kehancuran moral di mana masyarakat tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Esai ini saya tutup dengan menyelipkan kembali sendau gurau dari sang Kiai Ndeso yang sebetulnya bernada “sersan”- serius tapi santai: “Ojo sampek awak dewe seneng topengan, urip sak titahe, jajal tah rasakno, penak-penak.” (Jangan sampai kita suka memakai topeng kemunafikan, hiduplah apa adanya sesuai kodrat sebagai makhluk, cobalah rasakan, pasti lebih tenang dan nyaman).

(Vio Sari)

Berita Terkait

Live TikTok Jadi Sarana Judi Online, Ditressiber Polda Jateng Cepat Bertindak, Pelaku sudah ditangkap
Pengeroyokan di Krandon Kudus, 8 Pemuda Diamankan Polisi
Remaja Bawa Clurit untuk Rencana Tawuran Dua Geng di Kudus, Polisi Amankan Delapan Orang
Cegah Peredaran Narkoba di Tempat Hiburan, Polres Kudus Razia Sejumlah Kafe dan Tes Urine 26 Pemandu Lagu
Polres Kudus Gotong Royong Bangun Rumah Layak Huni untuk Warga
Polres Kudus Gandeng BPJS Kesehatan, 548 Warga Rentan Diverifikasi untuk Perlindungan JKN
Alfi Nuriyah Lapor Dugaan Penganiayaan ke Polres Kudus, Pacar Diduga Menodongkan Pisau
Percasi Kudus Gelar Turnamen Catur Perang Bintang 99 Cup

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 09:02 WIB

Fenomena “Ora Nduwe Isin” dan Senyum Pepesan Kosong Kemunafikan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 08:26 WIB

Live TikTok Jadi Sarana Judi Online, Ditressiber Polda Jateng Cepat Bertindak, Pelaku sudah ditangkap

Selasa, 20 Oktober 2026 - 15:57 WIB

Pengeroyokan di Krandon Kudus, 8 Pemuda Diamankan Polisi

Minggu, 18 Oktober 2026 - 11:50 WIB

Remaja Bawa Clurit untuk Rencana Tawuran Dua Geng di Kudus, Polisi Amankan Delapan Orang

Minggu, 18 Oktober 2026 - 11:45 WIB

Cegah Peredaran Narkoba di Tempat Hiburan, Polres Kudus Razia Sejumlah Kafe dan Tes Urine 26 Pemandu Lagu

Berita Terbaru