GROBOGAN || Portaljatengnews.com – Harapan warga Desa Pengkol, Kecamatan Penawangan, Kabupaten Grobogan untuk memiliki fasilitas olahraga yang layak pupus sudah. Proyek pembangunan Gedung Olahraga (GOR) yang digadang-gadang menjadi kebanggaan desa justru berakhir menjadi tumpukan pondasi saja, mangkrak tanpa kejelasan kelanjutan.
Berdasarkan keterangan warga setempat, pembangunan dimulai pada tahun 2024, tak lama setelah pekerjaan pembangunan jembatan di wilayah tersebut rampung. Namun nasib tak berpihak, sejak tahun 2025 lalu pekerjaan sama sekali tidak bergerak maju, padahal hingga saat ini hanya tahap pondasi yang selesai dikerjakan. Tidak ada tanda-tanda akan dilanjutkan, bahkan lokasi proyek kini terlihat terbengkalai dan mulai ditumbuhi rumput liar.
Tidak hanya itu, jembatan yang sudah dibangun sejak 2024 nampak terlihat melengkung. Warga khawatir jembatan yang sering dilalui itu bisa saja ambruk.
“Anggarannya lumayan besar, sekitar Rp1 miliar lebih. Tapi sayang sekali, uang sebanyak itu hanya menghasilkan pondasi saja, selain itu jembatannya juga melengkung. Khawatir ambruk, karena jembatan itu sering dilalui warga dan anak-anak sekolah,” ungkap salah satu warga yang enggan disebutkan namanya. Kamis (4/6/2026).

Kondisi ini memicu kekecewaan mendalam di kalangan masyarakat. Pasalnya, dana yang jumlahnya sangat besar itu dinilai akan jauh lebih bermanfaat jika dialihkan untuk memperbaiki akses jalan yang rusak parah dan sulit dilalui, terutama saat musim hujan. Warga menilai anggaran negara justru terkesan dihamburkan untuk proyek yang tidak selesai dan tidak memberikan manfaat apa pun.
“Banyak jalan di sini yang butuh perhatian pemerintah desa. Tapi kenapa malah anggaran besar dikeluarkan untuk hal yang akhirnya mangkrak begini? Terkesan uang rakyat hanya dibuang percuma saja,” sesalnya.
Warga pun pesimis pembangunan ini bisa diselesaikan oleh kepala desa saat ini. Mengingat masa jabatan kepala desa tinggal kurang dari satu tahun lagi, kemungkinan besar proyek ini hanya akan menjadi catatan kelam pembangunan yang tidak pernah selesai.
“Sepertinya kepala desa periode ini tidak akan bisa melanjutkannya lagi. Kalau tidak ada kepastian yang jelas, jangan-jangan pondasi yang sudah ada pun lama-lama rusak dan harus dibongkar lagi. Sungguh kerugian besar bagi desa kami,” tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pemerintah desa maupun pihak terkait mengenai penyebab penghentian proyek, penggunaan anggaran yang sudah dikeluarkan, serta rencana ke depannya. Warga berharap ada pihak yang bertanggung jawab dan transparansi mengenai dana yang telah digunakan agar hal serupa tidak terulang di masa mendatang.
Laporan: Samsul
Editor : Heri







