Api Abadi Mrapen, Awal Perjalanan Spiritual Menuju Puncak Waisak 2570 BE

- Redaksi

Jumat, 29 Mei 2026 - 19:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


GROBOGAN || Portaljatengnews.com – Menjelang peringatan Hari Raya Waisak 2570 BE tahun 2026, kawasan Api Abadi Mrapen menjadi saksi peristiwa sakral yang membuka lembaran awal perjalanan spiritual umat Buddha di Indonesia. Ratusan umat dari berbagai aliran dan majelis berkumpul dengan penuh khidmat untuk melaksanakan prosesi pengambilan Api Dharma, yang selanjutnya akan dibawa menuju Candi Borobudur sebagai pusat perayaan nasional.

Prosesi suci yang digagas oleh Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) ini menjadi penanda resmi dimulainya serangkaian rangkaian perayaan Waisak. Berlokasi di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, pada Jumat (29/5/2026) momen ini dijalani dengan penuh penghayatan dan kesakralan oleh seluruh peserta yang hadir.

Rangkaian acara diawali dengan pelaksanaan Puja Parita Suci, diikuti perwakilan dari delapan sekte dan majelis Buddha. Setelah tahapan ibadah selesai, para Sangha beserta pengurus Walubi melangkah menuju sumber api abadi untuk melakukan penyulutan obor utama. Api yang diperoleh dari tempat yang tak pernah padam ini kemudian akan dirawat dan dibawa dengan penuh hormat ke tempat-tempat suci selanjutnya.

Baca Juga :  Karyawan Perhutani KPH Telawa Peduli Bantu Air Bersih untuk Warga Cekel

Sekretaris Jenderal DPD Walubi Jawa Tengah, Gunawan, menjelaskan bahwa tradisi pengambilan Api Dharma di Mrapen telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah dan perayaan Waisak di tanah air.

“Kita awali langkah suci ini dengan menjemput cahaya dari Api Abadi Mrapen. Api ini akan disemayamkan terlebih dahulu di Candi Mendut, dan keesokan harinya kita akan melanjutkan prosesi pengambilan air suci di Sendang Jumprit, Temanggung,” ungkap Gunawan di lokasi acara.

Ia menambahkan, pada hari puncak perayaan, kedua unsur suci tersebut, api dan air akan diarak bersama dalam prosesi agung menuju Candi Borobudur, tepat sebelum memasuki detik-detik puncak Waisak yang jatuh pada pukul 15.44 WIB.

Lebih lanjut ia menjabarkan makna mendalam di balik simbolisme api yang diambil. Bagi umat Buddha, Api Dharma bukan sekadar nyala api fisik, melainkan representasi cahaya kebijaksanaan yang menerangi kegelapan batin.

“Api adalah simbol penerang. Ia mengajarkan kita untuk selalu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, serta menjadikan setiap langkah dan perbuatan kita bermanfaat bagi sesama dan alam semesta,” terangnya.

Baca Juga :  Perkuat Pengamanan Hutan, Perhutani KPH Purwodadi Jalin Sinergitas dengan Polda Jateng

Prosesi ini diikuti secara bergantian oleh delapan majelis dan sangha besar, meliputi Mahayana, Theravada, Tantrayana, Kasogatan, Pal Klung, hingga Maitreya. Setiap kelompok menjalankan ritual sesuai tata cara masing-masing dengan tetap menjunjung tinggi kebersamaan dan persaudaraan.

Perayaan Waisak tahun ini mengangkat tema utama “Dharma Sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan”, dengan subtema “Cinta Kasih Sumber Perdamaian Dunia”. Melalui pesan yang disampaikan dalam tema tersebut, umat Buddha berharap seluruh doa dan kebajikan yang dipersembahkan dapat menjadi energi positif yang membawa kedamaian, terlebih di tengah kondisi dunia yang masih diwarnai berbagai konflik dan perpecahan.

“Semoga segala harapan dan doa yang kita panjatkan bersama mampu memancarkan kedamaian yang meluas ke seluruh penjuru dunia,” pungkas Gunawan.

Setelah tiba di Candi Mendut, Api Dharma akan menjalani serangkaian prosesi pensakralan. Selanjutnya, api suci ini akan disatukan dengan air suci dari Sendang Jumprit, menyempurnakan persiapan menuju momen puncak peringatan kelahiran, pencerahan sempurna, dan wafatnya Sang Buddha Gautama di halaman megah Candi Borobudur.

(Samsul)

Editor : Portaljatengnews.com

Berita Terkait

Atap Rumah Roboh Menghantam Punggungnya Demi Melindungi Anak, Nasib Nurul Warga Desa Putatnganten Grobogan: Pernah Terdata Bantuan RTLH Namun Beralih ke Orang Lain
Perhutani Tandatangani MoU Penanggulangan Bencana dengan BPBD Grobogan
Tragedi Sendang Theleng: Remaja Pelajar Tenggelam, Kapolsek Karangrayung Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan
Pernah Jadi Tersangka, Heri Sweke Kembali Berulah, Kali Ini Diduga Hina Wapres dan PSI
Dari Aspirasi Warga, Setu Wiyono Maju Pilkades, Bawa Harapan Baru untuk Desa Termas  
Teriakan “Salam Restorasi” Saat Pendaftaran Balon Kades Kapung, Netralitas Kadus di Grobogan Dipertanyakan
Dana RTLH Diduga Sudah Turun, Endang Janda Tiga Anak di Putatnganten Grobogan Masih Bertahan di Rumah Keropos
Ratusan Warga Kawal H. Moh. Asrori Serahkan Berkas Pendaftaran Bakal Calon Kades Putatnganten

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 08:16 WIB

Perhutani Tandatangani MoU Penanggulangan Bencana dengan BPBD Grobogan

Senin, 26 Oktober 2026 - 08:44 WIB

Tragedi Sendang Theleng: Remaja Pelajar Tenggelam, Kapolsek Karangrayung Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 23:01 WIB

Pernah Jadi Tersangka, Heri Sweke Kembali Berulah, Kali Ini Diduga Hina Wapres dan PSI

Rabu, 21 Oktober 2026 - 09:52 WIB

Dari Aspirasi Warga, Setu Wiyono Maju Pilkades, Bawa Harapan Baru untuk Desa Termas  

Kamis, 15 Oktober 2026 - 22:44 WIB

Teriakan “Salam Restorasi” Saat Pendaftaran Balon Kades Kapung, Netralitas Kadus di Grobogan Dipertanyakan

Berita Terbaru