GROBOGAN || Portaljatengnews.com – Hujan deras disertai angin kencang pada Kamis sore, 29 Oktober 2026 sekira pukul 17.00 WIB, menjadi momen yang nyaris menelan tragedi bagi Nurul Luksiyanti (33), warga Dusun Sambirejo, RT 01 RW 04, Desa Putatnganten, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan. Saat anak-anaknya terlelap, atap rumah tempat mereka berteduh tiba-tiba ambruk. Dengan naluri seorang ibu, Nurul langsung merangkul keempat anaknya, sehingga pecahan genteng yang jatuh menghantam punggungnya, bukan tubuh anak-anak yang masih kecil itu.
“Waktu itu hujan deras banget disertai angin kencang, anak-anak sedang tertidur. Tiba-tiba atap rumah ambruk dan reflek saya langsung merangkul anak-anak yang sedang tertidur, sehingga genteng yang jatuh menghantam punggung saya,” ujar Nurul dengan suara bergetar. Ia telah lama berjuang sendirian menghidupi keempat anaknya, karena suaminya telah lama pergi merantau dan jarang pulang.
Kondisi rumah yang ditempati Nurul selama ini sebenarnya sudah tidak layak huni. Dinding yang rapuh, atap yang bocor, dan lantai tanah yang lembap saat hujan menjadi pemandangan sehari-hari bagi keluarga kecil ini. Yang menyayat hati, Nurul ternyata pernah terdata sebagai penerima bantuan program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) tahun lalu. Namun entah mengapa, bantuan itu beralih ke warga lain, sementara rumahnya tetap berdiri rapuh menantang cuaca.
Murtadlo, tokoh masyarakat setempat, menyampaikan bahwa warga sekitar tidak tinggal diam. Meski kemampuan ekonomi warga sendiri terbatas, mereka sepakat mengumpulkan bantuan sukarela untuk membantu memperbaiki atap rumah yang ambruk.
“Yang ambruk hanya atap rumahnya, bukan rumahnya yang roboh. Dan sudah sepakat warga urunan minimal Rp 10 ribu, bisa Rp 20 ribu, dan lebih besar lebih baik,” ungkap Murtadlo. Semangat gotong royong warga memang patut diapresiasi, namun sumbangan warga tentu belum cukup untuk membangun kembali rumah yang secara keseluruhan sudah tidak layak dihuni. Jumat (30/10/2026).
Kisah Nurul menyisakan pertanyaan besar. Mengapa warga yang rumahnya nyaris rubuh dan benar-benar membutuhkan justru tidak menerima bantuan yang sudah dijanjikan? Ke mana arah penyaluran program RTLH jika bukan kepada mereka yang paling membutuhkan? Warga berharap instansi pemerintah terkait segera turun ke lapangan, memverifikasi kondisi yang sebenarnya, dan memastikan warga yang benar-benar membutuhkan tidak harus menunggu tragedi menimpa baru mendapatkan perhatian.
Nurul dan keempat anaknya masih bertahan di rumah yang atapnya belum utuh kembali. Di tengah keterbatasan dan kesendiriannya, ia hanya berharap ada pihak yang peduli, agar anak-anaknya dapat tumbuh besar di rumah yang aman, layak, dan terlindung dari terjangan hujan dan angin.
Harapan penulis: Semoga kebaikan warga yang sudah menyisihkan rezekinya menjadi berkah, dan semoga perhatian pemerintah segera hadir di tengah mereka. (ttg)






