TEGAL || Portaljatengnews.com – Arena seleksi perangkat desa di Kecamatan Adiwerna mendadak jadi sorotan tajam publik usai mencatatkan rekor tak masuk akal. Dalam Tes Penjaringan Perangkat Desa serentak yang digelar di SMA Islamiyah Adiwerna pada 31 Agustus 2026 lalu, sebanyak 19 peserta dari 5 desa dinyatakan lulus 100% tanpa ada satu pun yang gugur passing grade.
Berdasarkan rekap penilaian resmi yang ditandatangani korektor Agung Hastaman Silarto, S.Sci., fenomena ajaib ini terjadi merata di lima wilayah desa:
Desa Gumalar: 5 pendaftar, seluruhnya lulus (BS: 84, MM: 83, AH: 77, INL: 77, FO: 71).
Desa Kaliwadas: 2 peserta ujian, seluruhnya lulus (BBS: 85, HA: 79).
Desa Tembok Kidul: 4 pendaftar, seluruhnya lulus (AM: 81, WANB: 78, FR: 76, ASM: 78).
Desa Ujungrusi: 5 pendaftar, seluruhnya lulus (RI: 84, MLF: 81, NZP: 81, MAS: 77, SDM: 76).
Desa Pagiyanten: 3 pendaftar, seluruhnya lulus (SR: 83, R: 79, RDT: 77).
Logika seleksi instansi mana pun runtuh di sini. Nilai Ujian Berbasis Komputer (CBT) para peserta melonjak tajam, berada di rentang 80 hingga 94, yang memicu kecurigaan kuat di tengah warga bahwa kunci soal ujian telah bocor sebelum tes dimulai.
Manipulasi Terselubung di Pagiyanten: Bobot Subjektif Kades Pukul Jatuh Pesaing
Skandal ini makin meruncing di Desa Pagiyanten. Peserta berinisial SR keluar sebagai pemenang dengan nilai akhir 83. Pada ujian CBT, nilai SR (92) hanya beda tipis dari pesaing terdekatnya, R (88). Namun, SR mendadak mendapatkan “karpet merah” pada tahap wawancara Kepala Desa dengan raihan nilai fantastis 95 tertinggi se-Pagiyanten.
Dengan bobot wawancara Kades sebesar 10%, angka tersebut otomatis mengunci kemenangan SR. Belakangan terungkap, SR disinyalir memiliki hubungan kekerabatan dengan Kepala Desa Pagiyanten, Nofal. Saat dikonfirmasi, Kades Nofal berdalih menggunakan dana talangan pribadi sebesar Rp20 juta dan mengklaim kemenangan SR didasari atas faktor “pengabdian” selama tiga tahun
Sikap defensif turut ditunjukkan Camat Adiwerna, Wuryanto. Saat dikonfirmasi di kantornya, ia terkesan berlepas tangan atas kejanggalan yang terjadi.
”Itu semua urusan desa masing-masing. Pihak kecamatan hanya selaku pengawasan dan menjadi narasumber saja (wawancara),” ujar Wuryanto.
Pernyataan tersebut dinilai janggal. Faktanya, wawancara pihak kecamatan memegang bobot 10% yang ikut menentukan nasib peserta. Di Pagiyanten, Camat Wuryanto sendiri memberi nilai 45 untuk SR, sementara dua pesaing lainnya hanya diganjar nilai 42,5.
Kejanggalan Anggaran dan Pengakuan Pihak Sekolah

Di tengah polemik kelulusan massal ini, aspek transparansi finansial turut menuai tanda tanya besar. Informasi awal menyebutkan bahwa setiap desa menyetorkan biaya seleksi sebesar Rp5 juta ke pihak SMK Islamiyah Adiwerna.
Namun, saat dikonfirmasi langsung oleh awak media kepada pihak SMK Islamiyah Adiwerna, Agung Hastaman Silarto selaku korektor memberikan klarifikasi mengejutkan. Ia menyebutkan bahwa nominal Rp5 juta tersebut merupakan total akumulasi keseluruhan untuk seluruh desa yang menyelenggarakan tes di tempat tersebut, bukan angka pungutan per desa seperti yang diisukan. Kendati demikian, perbedaan narasi ini tetap menuntut audit terbuka agar tidak menjadi polempik liar di tengah masyarakat.
Fenomena “lulus berjamaah” ini kini memicu gelombang protes warga. Publik mendesak Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Tegal untuk turun tangan membongkar transkrip soal CBT serta membuka rekaman wawancara secara transparan. Jika seluruh peserta dipastikan lulus tanpa ada yang tersaring, seleksi serentak ini tak ubahnya sekadar formalitas berselimut sandiwara.
Laporan: Bambang Amin






